|

GERAKAN RAKYAT MELAWAN: RAKYAT SERUKAN TUTUP PT.TPL

MassaAaSeruan aksi demonstran dari Tapanuli Raya  termasuk Rakyat Tapanuli Selatan serukan:

TUTUP TPL....!

Ribuan massa dari Organisasi Masyarakat, Pemuka Agama, Tokoh Masyarakat, Ormas, Aliansi Mahasiswa melakukan Demonstrasi Menuntut  Gubernur  Sumut Bobby Nasution untuk men-Tutup TPL 




Medan-focuskejar.co.id 

Ribuan massa demonstran dari berbagai elemen masyarakat, Ratusan Pendeta dan Pastor, Alim ulama, aliansi mahasiswa dari berbagai universitas, petani dan unsur masyarakat,  organisasi masyarakat, aliansi mahasiswa dan berbagai lapisan masyarakat bersama puluhan korban kekerasan dari Desa Sihaporas, desa Natinggir, desa Natumingka, desa Simare dan pulahan desa lainnya yang dilakukan oleh PT.Toba Pulp Lestari ( TPL)

Menurut seorang orator bermaga Ambarita mengatakan bahwa puluhan warga bersama dia telah menjadi korban kekerasan dan di masukkan ke penjara oleh TPL karena berusaha mempertahankan tanahnya di desa Sihaporas, selain itu seorang wanita berumur sekitar 50 tahun ini juga menyampaikan dalam orasinya menjadi korban pemukulan dan penganiayaan bersama puluhan masyarakat lain yang berusaha mempertahan kan tanah warisan leluhurnya ratusan tahun yang lalu yang dirampas oleh TPL dengan semena mena oleh karyawan TPL berpakaian ala ninja, mereka bertopeng, penutup kepala, menggunakan penutup wajah, memakai perisai dan alat pentungan, mereka membabi buta memukuli dan menganiaya masyarakat merusak tanaman dan bahkan menghancurkan rumah kami, sebut boru Pasaribu.

Para orator dari utusan kelompok masyarakat mengecam tindakan perusahaan TPL yang telah melakukan pengrusakan alam Tapanuli Raya sekaligus merampas hak hak masyarakat mulai dari tanah, kemerdekaan sebagai warga negara bahkan kriminalisasi masyarakat secara terbuka selama puluhan tahun. Tatanan masyarakat yang di hancurkan, nilai nilai budaya dan keberagamaan, sosial budaya juga menjadi rusak akibat kehadiran PT. TPL.

Seruan masyarakat meminta TUTUP TPL puluhan tahun hingga sekarang, bahkan Menurut orator aksi mengatakan bahwa Bobbi Nasution sebagai gubernur malah mendukung keberadaan TPL dan tidak mendukung atau tidak melindung hak hak rakyat. Kekecewaan rakyat memuncak pada 10-11-2025, massa memasuki depan kantor Gubernur Sumut menyerukan agar Bobbi memberikan perhatian dan segera menutup TPL.

Hingga pukul 14.00 sejak pagi aksi digelar jam 10.00, namun tak nampak ada Gubernur atau pejabat Pempropsu yang mau menerima demonstran. 

Disekitaran Kantor Gubernur terlihat ratusan personil Polri dan Pol-PP berjaga didepan pintu masuk kantor tersebut. 

Dalam kesempatan tersebut Ketua DPP Formasi  Sumatera Utara G. Seniman M.Pd.CPM yang bergabung dengan massa demonstrasi TUTUP TPL  turut menyampaikan aspirasinya sekaligus meluapkan kekecewaannya kepada Gubernur Sumut. Seniman mengatakan bahwa konflik antara warga Tapanuli Raya telah ada sejak lama,  namun menurutnya hal ini terjadi karena Pemerintah daerah tidak sensitif terhadap adanya gesekan yang dapat menimbulkan perpecahan di masyarakat. Dulu PT. Inti Indorayon yang sekarang bernama PT. TPL selalu mendapat prioritas dari negara atau pemerintah dengan membiarkan masyarakat tertekan dan tertindas akibat kekuasaan TPL yang luar biasa diberikan pemerintah.  Makanya saya heran tujuan pembangunan nasional adalah meningkatkan sumber penghasilan rakyat agar keluar dari kemiskinan tetapi kita lihat kemerdekaan Rakyat lah yang dirampas. Kalian boleh lihat, misalnya kalau masyarakat melawan maka polisi akan cepat bertindak dengan memasukkan masyarakat ke penjara. 

Gambar diatas adalah Pegawai TPL  yang menggunakan penutup wajah hingga badan bak film ninja di jepang, menggunakan Tameng dan Pentungan untuk mengintimidasi dan menganiaya warga.
Namun tak tersentuh hukum.





Maka korban akibat perusahaan ini ratusan warga menjadi menderita dan trauma. Tetapi kalau pihak TPL yang membantai rakyat nyaris tidak ada tindakan. Ini sangat mengherankan dan kita curiga bahwa semua kejadian itu nyata dan terbuka di perlihatkan kepada masyarakat. Dan yang aneh lagi tak satupun Bupati atau kepala daerah atau Anggota Dewan (DPRD) di seluruh kabupaten kawasan hutan konversi TPL yang mau mendukung perlawanan rakyat ini. Ini sudah aneh. Padahal semua anggota DPR/ DPRD bersama Kepala daerah bahkan presiden dipilih oleh rakyat yang tertindas ini. Kalian bisa lihat bahwa kondisi ini cukup mencurigakan kenapa para kepala daerah dan DPR/DPRRI ini  membiarkan rakyat sendiri berjuang melawan penjajahan tanah rakyat padahal UUD 1945  bahwa prinsip keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi " Salus Populi Suprema Lex Esto" yang mengamanatkan negara untuk selalu mengutamakan kesejahteraan dan melindungi rakyat setiap tindakan dan  kebijakan. Ini jelas dilanggar oleh pemerintah.



Anda baca pasal 28 ayat (1 ) UUD 1945 menjamin hak atas lingkungan hidup yang baik, nah kalian lihat apakah aparat negara bersama sama dengan penyelenggara negara dalam hal ini sudah menjalankan UU ini? Jawabannya "Tidak". Malah sebaliknya, rakyat ditindas oleh bangsanya sendiri dari hasil pemilihan umum, rakyat yang memilih pemimpin negara ini mulai dari Presiden,  gubernur,  bupati, Kepala desa apalagi DPRD justru mereka tidak menunjukkan keberpihakan kepada rakyat yang telah memilih mereka untuk duduk, malah memberikan dukungan kepada TPL. Termasuk hari ini Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution dengan jelas mengatakan mendukung TPL, Rakyat Sumatera Utara khususnya Tapanuli Raya termasuk Rakyat Tapanuli Selatan yang turut menyuarakan kekecewaannya kepada bobby dan kemarahan rakyat atas pernyataan yang melukai hati rakyat.  Setidaknya bila Bobby  tak dapat membantu rakyat, tidak mau berpihak kepada rakyat atau tidak menghendaki rakyat selamat, tak perlu memberikan statemen mendukung  TPL yang dapat melukai hati rakyat, sebut Seniman.

Tim

Komentar

Berita Terkini