![]() |
| Mantan Kepala BGN di Tahan Kejaksaan Agung |
Penulis: G. Seniman N. SH.,S.Pd.,M.Pd.,CPM.,CPLA.,C.CrP
Opini: Bagaimana Korupsi BGN Menjegal Masa Depan Generasi Emas
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi penyelamat gizi anak bangsa kini justru layu sebelum berkembang. Penangkapan mantan Kepala BGN, Dadan Hindayana, bersama dua wakilnya oleh Kejaksaan Agung membuka kotak pandora yang mengerikan. Institusi baru ini ternyata belum sempat bekerja untuk rakyat, melainkan baru memanaskan mesin korupsinya guna memuaskan keserakahan pribadi para pejabatnya.
Ketika anggaran ratusan triliun rupiah dikorupsi melalui modus pengadaan barang mewah fiktif dan manipulasi yayasan mitra dapur gizi, korban paling nyatanya bukanlah angka-angka di atas kertas APBN. Korban sesungguhnya adalah anak-anak sekolah di berbagai penjuru negeri.
Hilangnya Hak Nutrisi Akibat "Korupsi Piring"
Setiap rupiah yang dikorupsi melalui skema penggelembungan harga (mark-up) pengadaan gawai, motor listrik, hingga smart TV adalah gramasi nutrisi yang hilang dari piring makan para siswa. Modus manipulasi portal mitra BGN untuk memenangkan yayasan-yayasan bodong berafiliasi terbukti merampok insentif harian operasional dapur gizi.
Dampaknya langsung terasa di lapangan:
- Kualitas Makanan Merosot: Dana yang seharusnya dibelanjakan untuk protein berkualitas (susu, telur, daging) menyusut demi menutupi potongan setoran para pejabat.
- Porsi yang Kian Menipis: Menu makanan bergizi gratis rawan dimanipulasi menjadi hidangan seadanya yang jauh dari standar kecukupan kalori anak usia pertumbuhan.
- Ancaman Stunting Masih Mengintai: Alih-alih memutus rantai gizi buruk dan stunting, anggaran jumbo ini terancam menguap tanpa efek domino yang positif bagi kesehatan anak.
Menjual "Titik Dapur", Menjual Masa Depan
Praktik jual-beli titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menunjukkan hilangnya kepekaan moral para tersangka. Penunjukan mitra pengelola makanan tidak lagi didasarkan pada kompetensi higienitas atau ketepatan distribusi, melainkan kedekatan lingkaran kroni dan nilai suap yang disetorkan.
Ketika pengelolaan makanan anak-anak diserahkan kepada yayasan tidak layak yang lolos lewat manipulasi sistem verifikasi, pemerintah sama saja mempertaruhkan keselamatan fisik para siswa. Risiko keracunan makanan atau infeksi pencernaan akibat standar dapur yang buruk menjadi harga mahal yang harus dibayar oleh anak-anak yang tidak tahu apa-apa.
Tantangan Bersih-Bersih Pimpinan Baru
Langkah cepat Presiden Prabowo Subianto yang mencopot jajaran direksi lama dan menunjuk Nanik S Deyang sebagai Kepala BGN yang baru adalah langkah awal yang wajib diapresiasi. Namun, pembenahan tidak boleh berhenti pada rotasi jabatan semata.
Manajemen baru BGN harus melakukan audit total terhadap portal kemitraan dan memutus kontrak seluruh vendor bermasalah. Publik dan segenap elemen masyarakat harus mengawal ketat jalannya program ini agar piring makan siang anak sekolah tidak lagi diisi oleh sisa-sisa "ampas" korupsi. Jangan biarkan harapan melahirkan Generasi Emas dirampok oleh para koruptor sebelum anak-anak kita sempat mencicipi hak gizi mereka.

